Selasa, 19 Februari 2013

TNI Harus Siap Perang Hibrida



Penulis : Ratih Prahesti Sudarsono | Senin, 18 Februari 2013 | 21:48 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Tentara Nasional Indonesia (TNI) harus siap menghadapi perang hibrida (hybrid war). Pembelian perlengkapan senjata TNI dalam tiga tahun terakhir ini juga dipersiapkan untuk kemungkinan menghadapi perang tersebut.

Demikian antara lain pernyataan Panglima TNI Jenderal TNI Agus Suhartono, yang dibacakan Kapuskes TNI Mayjen TNI Dedy Achdiat Dasuki, pada upacara 17 Februari 2013, di Mabes TNI Cilangkap Jakarta, Senin (18/2/2013). Sebagaimana siaran pers Pusat Penerangan TNI, Jeneral Agus memaparkan bahwa beberapa negara maju  secara khusus menaruh perhatian pada tren baru ancaman, yaitu perang hibrida.

Ini merupakan stategi militer yang memadukan perang konvensional, perang yang tidak teratur, dan cyber warfare, baik berupa serangan nuklir, senjata biologi dan kimia, alat peledak improvisasi, serta perang informasi.Menurut Panglima TNI, berbagai dinamika dan keriuhan dalam pengadaan alutsista TNI selama tiga tahun belakangan ini, semakin memberikan kedewasaan peran TNI.

Kesungguhan pemerintah dalam menata pertahanan dan keamanan negara, tidak hanya diproyeksikan untuk menghadapi musuh dari luar.Tetapi juga, menyiapkan kemungkinan berkembangnya perang hibrida dan masalah terorisme di dalam neger, katanya.

Dalam  menghadapi ancaman perang hibrida, tegas Jenderal Agus, TNI harus mampu merespon dan segera beradaptasi dengan situasi yang berkembang. Itu tidak lain agar dapat mengantisipasi serta mengatasinya secara lebih cepat dan tepat.

Ia mencontohkan, pengadaan pesawat tempur sergap Super Tucano yang sejalan dengan pengadaan pesawat Counter Insurgency (Coin) TNI AU, tidak lain guna mengantisipasi kemungkinan berkembangnya aksi terorisme.Demikian pula pembelian dan pengadaan alutsista matra darat dan laut yang dimaksudkan untuk menghadapi ancaman Perang Hibrida. Sumber : www.kompas.com