Rabu, 10 April 2013

Eks Pangdam Diponegoro: Berani Berucap, Berani Bertanggung Jawab



Selasa, 09/04/2013 11:26 WIB

Jakarta - Eks Pangdam IV Diponegoro Mayjen TNI Hardiono Saroso rela pasang badan demi 11 anggota Kopassus penyerang LP Cebongan. Ia siap mempertanggung jawabkannya di muka peradilan militer.

Hardiono adem ayem apabila nanti namanya disebut dalam peradilan militer. "Tenang aja, tanggung jawab. Berani berucap, berani bertanggung jawab. Yang jelas itu, prajurit mati untuk pemimpin, pemimpin mati untuk prajurit," kata Hardiono.

Hal ini disampaikan Hardiono menjawab pertanyaan wartawan, di sela-sela menghadiri acara tanam pohon oleh Presiden SBY di Mabes TNI AD, Jakarta, Selasa (9/4/2013). Ia mengaku sangat sayang dengan anak buahnya. "Saya sayang betul anggota, sayang betul. Gua harus mati buat prajuritnya," ujarnya.

Ketika ditanya tentang dugaan ada atau tidaknya kesalahan koordinasi, pria berkumis tebal ini lagi-lagi menegaskan siap bertanggung jawab. "Tanggung jawab, oke," kata jenderal bintang dua ini.

Hardiono memastikan informasi yang disampaikannya pada 23 Maret bahwa anggota Kopassus tidak terlibat sangat bisa dipercaya alias A1. "Iya dong (A1). Pokoknya semua yang terjadi tanggung jawab," kata pria berkumis itu.

Ia menambahkan ada evaluasi dari KSAD Jenderal TNI Pramono Edhie saat dia menyerahkan jabatan Pangdam kepada Mayjen Sunindyo pada Senin 8 April kemarin.

"Harus bertanggung jawab. Karena saya sudah laporan, Pak ini semua tanggung jawab saya," kata Hardiono. Berarti penyerangan itu bukan disuruh atasan ya, Pak? "Bukan dong, tentara harus bertanggung jawab, Angkatan Darat," jawab Hardiono.

Hardiono sebelumnya membantah anggotanya terlibat dalam aksi penyerangan di LP Cebongan, Sleman, Yogyakarta, beberapa jam setelah penyerangan pada Sabtu (23/3).

Hal inilah yang menjadi dasar munculnya isu Hardiono mengabarkan informasi yang tidak benar. Apalagi hasil penyelidikan Tim 9 TNI AD menyebutkan penyerangan dilakukan oleh 11 anggota Kopassus Grup II Kandang Menjangan di Kartasura. Tak lama kemudian, Hardiono dimutasi ke Jakarta. TNI AD menyangkal mutasi itu terkait dengan kasus penyerangan LP Cebongan. Sumber : www.detik.com