Rabu, 22 Mei 2013

Letjen Moeldoko: Siap Lanjutkan Evaluasi Internal TNI AD


Jakarta,   Letjen TNI Moeldoko yang dipilih seba­gai Kepala Staf Angkatan Da­rat (Kasad) yang baru menya­takan siap melakukan evaluasi internal khususnya terkait ka­sus-kasus perusakan hingga pembunuhan yang melibatkan anggota Tentara Nasional In­donesia (TNI) dalam beberapa bulan terakhir ini.

"Kita sudah mengeva­luasi internal ya, segera akan saya lihat kembali apa­kah ada proses pendidikan yang kurang baik atau ku­rang benar, ini perlu peneli­tian," kata Moeldoko di Ja­karta, Senin (20/5). Evaluasi dan pembenahan, kata dia, akan terus dilanjutkan ter­masuk mengenai transpa­ransi anggaran. Dia juga meminta TNI bersatu dan menghindarkan diri dari ku­bu-kubuan dalam institusi.

"Yang jelas saya harus terbuka kepada seluruh ja­jaran bahwa tidak ada lagi istilahnya ini orangnya Moeldoko atau siapa, ini ti­dak ada lagi, harus terbuka semuanya," tegasnya.

Sementara untuk penin­dakan terhadap pelaku keke­rasan dari anggota TNI, in­stansinya ditegaskan Muldoko taat mengikuti proses hu­kum. Beberapa bulan ter­akhir, aparat TNI kerap di­kaitkan dengan tindakan ke­kerasan seperti pembakaran dan aksi kekerasan di kantor Polres Ogan Komering Ulu di Sumatera Selatan (Sum­sel), perkelahian di kantor DPP PDI-P Lenteng Agung hingga pembunuhan empat tahanan di Cebongan oleh anggota Kopassus.

Anggota Komisi I DPR Susaningtyas Nefo Handaya­ni Kertopati berpendapat di­tunjuknya Letjen TNI Moel­doko sebagai Kasad meng­gantikan Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo ka­rena intelektualnya sebagai tentara.

Dia berharap Moeldoko mampu memajukan TNI AD sehingga terlatih dan profesional, sehingga siap menghadapi tantangan mo­dern seperti halnya kemung­kinan perang asimetrik.

"Kasad yang baru harus piawai menjadikan prajurit memiliki kearifan lokal dan kemahiran komunikasi antar budaya. Karena sekarang bu­kan zamannya perang otot. Perang urat syaraf menuntut seseorang memiliki kemam­puan pikir yang tajam," kata Nuning sapaan Susaningtyas.

Kesejahteraan Prajurit
Kasad juga dituntut mampu melakukan pengem­bangan sumber daya manu­sia (SDM) dan meningkat­kan kesejahteraan prajurit. Selain itu hubungan antar in­stitusi juga harus dibenahi. "Kemampuan pokok minimum (Minimum Essential Force/MEF) bukan hanya alutsista saja yang dikem­bangkan, tapi juga kesejah­teraan dan kemampuan serta pendidikan SDM," tutur po­litisi Partai Hanura ini.

Sementara itu, dising­gung mengenai kinerja Pra­mono, Nuning memandang bahwa Pramono tidak serta merta menyombongkan diri sebagai keluarga istana. Wa­lau keluarga istana, beliau cukup memiliki pendirian yang tegas dan tidak men­tang-mentang sebagai kelu­arga istana. Meski dinilai cu­kup baik, namun wanita yang mendalami ilmu inteli­jen ini memandang masih ada kekurangan pada era ke­pemimpinan Pramono. (BI/M-17), Sumber Koran: Suara Pembaruan (21 Mei 2013/Selasa, Hal. 07)