Selasa, 21 Mei 2013

Tujuh Pesan SBY untuk KSAD Letjen TNI Moeldoko



Selasa, 21 Mei 2013 00:31 WIB

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memutuskan memilih Letjen TNI Moeldoko menggantikan Jenderal Pramono Edhie Wibowo sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) yang sudah memasuki masa pensiun.

Terhadap KSAD yang baru ini, Presiden pun menyampaikan tujuh pesan khusus. Hal itu diutarakan Presiden, saat Jenderal Pramono dan Letjen Moeldoko menghadap sebelum KSAD yang baru diumumkan, Senin (20/5/2013).

Pesan pertama Presiden kepada KSAD yang baru, kata Pramono, adalah melanjutkan kepemimpinan dan manajemen TNI yang saat ini sudah berada di jalur yang benar. TNI yang diharapkan oleh rakyat adalah TNI yang professional. Karenanya perlu adanya kemantapan dalam mengembankan tugas yang dipikul oleh negara pada TNI.

"Dan ini juga pesan dari Presiden agar dilanjutkan, ditingkatkan, disempurnakan, baik dalam penyusunan kekuatan dan kemampuan termasuk didalamnya adalah modernisasi  alutsista yang sdg kita jalankan, khususnya TNI AD ini," ujar Pramono, di kantor Presiden, Jakarta, Senin (20/5/2013).

Hal ketiga yang disampaikan Presiden, terkait masalah kesejahteraan prajurit dan keluarganya. Hal ini seiring dengan apa yang menjadi upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan prajurit dan keluarganya. Yaitu dengan gaji yang selalu mengikuti perkembangan dari ekonomi. "Juga perumahan, pendidikan dan pembangunan markas-markas TNI di daerah-daerah," ujar Ipar SBY ini.

Selain itu, SBY juga berpesan agar kekuatan TNI memiliki kedekatan atau bersama-bersama rakyat. "Beliau (Presiden) berpesan lanjutkan apa yang sudah dikerjakan saat ini, kartena tanpa bantuan rakyat mungkin kita sulit untuk menjadi kuat," kata Pramono.

Presiden juga tidak lupa memberikan pesan agar menjaga kekompakan internal TNI AD, TNI dengan rakyat dan TNI AL, TNI AU dan dengan Kepolisian. Pesan SBY selanjutnya, agar langkah-langkah dalam penertiban pengadaan alutsista dan keuangannya harus dilaksanakan secara transparan.

"Harus dilaksanakan secara transparan, terbuka. Sehingga tidak ada kesan penggunaan anggara yang kurang tepat. Ini harapan beliau. Sehingga dalam hal ini tetap dilanjutkan oleh Jenderal Moeldoko," ujarnya.

Menghadapi pemilu 2014, Presiden juga menekankan TNI AD netral dan tidak berpolitik praktis. "Sebetulnya ini sudah ditunjukkan saat pelaksanaan Pemilu 2009. Kalau 2009 bisa, kenapa 2014 tidak bisa? Itu ditekankan oleh beliau lagi. Dengan harapan bahwa tetap jaga netralitas TNI AD," katanya.