Rabu, 03 Juli 2013

Bocah 12 Tahun Tewas Saat Baku Tembak TNI-OPM


JAYAPURA - Seorang bocah bernama Arlince Tabuni 12 tahun, tewas dalam baku tembak antara pasukan gabungan Tentara Nasional Indonesia/Kepolisian RI dan Organisasi Papua Merdeka di Tiom, Kabupaten Lanny Jaya dua hari lalu, sekitar pukul 17.00. Jenazah Arlince kini disemayamkan di rumah duka di Tiom. "Korban meninggal akibat terkena peluru," kata juru bicara Komando Daerah Militer XVII Cenderawasih, Letnan Kolonel Jansen Simanjuntak, di Jayapura kemarin.

Jansen menjelaskan, baku tembak terjadi di pinggir Kota Tiom, saat pasukan gabungan TNI/ Polri mengejar kelompok OPM, yang diduga dipimpin Purom OkinakWenda. "Waktu itu sudah mulai gelap, dalam perjalanan pulang ke kota, tiba-tiba ada tembakan, anggota langsung membalas," kata dia. Setelah pasukan gabungan sampai di Kota Tiom, Jansen menambahkan, barulah tersiar kabar seorang anak kecil tertembak.

Pasukan gabungan TNI/Polri mengejar kelompok Puron Wenda setelah mereka diduga membakar dan menembak tiga polisi di Kepolisian Sektor Pirime, Lanny Jaya, 27 November 2012 lalu.

Tiga polisi yang tewas ditembak dan dibakar adalah Kepala Kepolisian Sektor Pirime Inspektur Satu Rofli Takubesi dan dua anggotanya, Bngadir Satu Daniel Makuker serta Brigadir Satu Jefri Rumkorem. Sementara itu, satu anggota polisi lainnya selamat karena melarikan diri. Dalam penyerang­an tersebut, pelaku juga merampas revolver milik Rofli dan dua senjata laras panjang.

Menurut Jansen, TNI kini tengah menyelidiki tewasnya Arlince. Bocah perempuan korban penembakan itu adalah anak dari keluarga seorang penginjil di Kampung Popome, Tiom. Jansen berjanji menjelaskan detail peris­tiwa itu jika penyelidikan sudah selesai. "Nanti akan diberikan ke media, supaya lebih ielas."

Hingga kemarin, belum diketahui apakah Arlince ditembak oleh TNI atau kelompok bersenjata. "Saya belum bisa bilang kalau korban tertembak dari pihak siapa atau dari peluru nyasar." Namun Jansen memastikan akan menindaklanjuti peristiwa ini jika pelaku penembakan adalah anggota TNI. "Tak mungkin kami biarkan." Hukuman kepada pelaku penembakan, kata Jansen, bisa berupa pemecatan.

Jansen mengatakan TNI tak akan sengaja menembak seorang anak kecil. "Panglima tiap kali menyampaikan jangan sekali-kali melakukan kekerasan terhadap warga sipil, apalagi anak kecil," kata Jansen. Amanat ini, kata dia, wajib dipatuhi seluruh anggota TNI.

Kepala Pusat Penerangan TNI Laksamana Muda Iskandar Sitompul mengaku belum mengetahui peristiwa ini. Namun dia berjanji menyelidiki informasi ini. "Akan kami cari data dulu ke lapangan," kata Iskandar ketika dihubungi kemarin. (JERRY OMONA | WAYAN AGUS PURNOMO), Sumber: Koran Tempo (03 Juli 2013/Rabu, Hal 09)